KIE Inovasi "SANGER" Sharing Informasi Aneuk Nanggroe dan Edukasi Registrasi

23-12-2021 Banda Aceh Dilihat 1127 kali

Kota Banda Aceh dijuluki sebagai "kota seribu satu warung kopi". Hal ini disebabkan jumlah Warung Kopi di kota ini terbilang cukup banyak, didukung kebiasaan sebahagian besar masyarakat di kota ini yang sangat suka minum kopi membuat berjamurnya warung kopi. Kebiasaan minum kopi di warung kopi seperti sudah membudaya dan mengurat nadi dalam pikiran mereka, sehingga jika sehari tanpa minum  kopi terasa ada yang kurang dalam hidup, dan tak heran terutama pagi hari, sore dan malam, rata-rata warung kopi di kota ni penuh sesak oleh pengunjung.

Beragam pengunjung dengan lintas usia, gender dan berbagai kepentingan membuat warung kopi menjadi salah satu tempat favorit ajang pertukaran informasi, silaturahmi, bahkan bisa menjadi wadah transaksi bisnis. Warung kopi yang dulunya hanya sekedar tempat minum, kini dengan perubahan interior  dan fasilitas semakin menarik perhatian dan  menjadi  trending dikalangan anak muda/kaum milenial. Pada saat ini warung kopi lebih dikenal dengan sebutan Kafe.

Ramainya pengunjung di setiap kafe membuat salah satu pegawai  BBPOM di Banda Aceh Yanti,  untuk berinovasi memanfaatkan kafe sebagai ajang Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE). Inovasi ini dikenal dengan “SANGER” Sharing Informasi Aneuk Nanggroe dan Edukasi Registrasi. “Kata SANGER diambil dari nama jenis minuman kopi yang cukup diminati oleh pengunjung kafe baik pria maupun wanita” kata yanti.

Rabu (22/11/2021) KIE melalui Inovasi SANGER telak dilakanakan di Wood Kafe oleh Yanti dan Tim. Berbagai kegiatan seperti pemberian informasi secara langsung, pembagian brosur, display temuan produk Obat dan Makanan (OMKA) yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK), layanan Informasi dan pengaduan, edukasi registrasi OMKA, sampai pembagian doorprice berupa Voucher Sanger dan Termos Mini.

“Dengan KIE melalui Inovasi SANGER ini ini diharapkan BBPOM di Banda Aceh lebih dekat dengan masyarakat untuk memberi edukasi dan pelayan prima sehingga dapat memberdayakan masyarakat untuk melindungi diri dari obat dan makanan yang TMK” kata yanti.

Balai Besar POM di Banda Aceh

Sarana